SALAH SANGKA
Pak Jaya, itulah nama yang biasa dipanggil untuk Pak RT kita. Dan Pak Jaya adalah ketua RT yang sudah menjadi ketua RT kurang lebih selama 2 tahun ini. Pak Jaya termasuk orang yang baik hati dan bijaksana selama memimpin desa kami. Sejak dulu, desa Pajo adalah desa yang makmur. Segala kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan baik, termasuk saya sebagai tetangganya yang lebih lama tinggal di desa Pajo dari pada Pak Jaya.
Pak Jaya termasuk orang yang berada, maklum saja dia pindah ke desa kami karena mendapat utusan dari lurah. Dan akhirnya dia menetap di desa kami selama 2 tahun ini. Kami punya rasa kebanggaan sendiri karena memiliki RT seperti Pak Jaya, selain orangnya yang ramah, baik hati, sopan santun dan suka menolong warga yang kesusahan serta memiliki solidaritas yang tinggi. Mungkin apabila dia harus diganti menjadi RT kami warga desa Pajo tidak rela, namun dalam hal ini sangatlah tidak mungkin. Karena kami sebagai warga tidak bisa membuat keputusan sendiri tanpa ada kesepakatan dengan warga-warga yang lain.
Dan akhirnya hal yang tidak diinginkan ini pun terjadi. Pergantian ketua RT pun dilakukan di desa Pajo. Ketua RT yang baru ini terlihat tidak menyenangkan, seram dan sombong. Namanya adalah Pak Musgon. Dan Pak Jaya pun tetap tinggal di desa kami. Walaupun dia sudah tidak menjadi ketua RT lagi di desa Pajo, kami masih sering berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu hal atau hanya sekedar berkumpul biasa saja.
Seperti hari-hari sebelumnya, kami semua menjalankan aktifitas kami masing-masing seperti biasa. Dan Pak Jaya masih berdiam diri di rumahnya. Istrinya sedang menyampu halaman rumah, sedangkan anaknya berangkat ke sekolah. Ketua RT kita yang sekarang ini sangat jarang berinteraksi dengan warga-warga. Pertemuan di balai desa yang biasanya dulu sering dilakukan sekarang sudah jarang sekali.
Saya tidak mengerti apa saja yang dikerjakan ketua RT baru kita ini. Kita melihat tingkah lakunya sangat pemalas dan tidak peduli dengan warganya. Kami ingin menuntut tapi kami takut untuk melakukanya. Kami pun berunding dengan Pak Jaya untuk mengatasi masalah ini. Dan ternyata jawaban Pak Jaya sangat sederhana, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang mau membantu saudaranya sendiri.” Dan Pak Jaya pun menjelaskan, bahwa kita harus membantu Pak Musgon untuk menjalankan tugasnya sebagai ketua RT dengan baik. Namun ada sebagian warga yang tidak setuju dengan pendapat Pak Jaya, sebab mereka berpikiran orang yang tidak baik seterusnya pun tidak akan baik terus. Dan Pak Jaya pun segera meluruskan pemikiran warga. Warga pun akhirnya percaya dan yakin bahwa semuanya akan segara diatasi dan akan baik ke depannya.
Keesokan harinya, Pak Jaya dan beberapa warga sepakat untuk mendatangi rumah Pak Musgon, termasuk saya. Jujur saja, saya agak merasa takut terhadap Pak Musgon karena tampangnya yang sangat menyeramkan. Namun Pak Jaya menguatkan nyali kami semua. Dia mengatakan, “Tampang boleh seram, tapi hati bisa saja seperti berlian.” Setelah itu kami pun bertemu Pak Musgon dan Pak Jaya pun mulai membuka pembicaraan duluan.
“Sehubung dengan segala macam keluahan warga-warga kami sebagai perwakilan ingin memberi tahu”, kata Pak Jaya. “Saya tidak mengerti, kenapa warga desa ini tidak pernah sama sekali mengamati aktifitas keseharian saya dari pagi hingga malam.” jelas Pak Musgon. “Penduduk desa ini sudah sering memperhatikan anda, namun mereka tidak pernah melihat anda melakukan sesuatu untuk masyarakat sini.” tegas warga lain.
“Dengarlah, saya memang jarang berinteraksi dengan warga sini sebab saya ingin memperhatikan keadaan warga sini. Ingin mengenali lebih dalam warga-warga sini dan setiap ada kesempatan saya mengunjungi warga kita yang memang kekurangan. Saya memberikan apa kebutuhan mereka yang belum terpenuhi”, kata Pak Musgon.
“Saya tidak percaya itu,” kata salah satu warga. “Jika anda tidak percaya, silahkan temui warga yang tinggal di ujung sana. Anda pasti mengenalnya kan siapa dia?” tanya Pak Musgon. Di antara perdebatan antara Pak Musgon dengan warga desa Pajo, Pak Jaya pun langsung paham apa yang dikatakan oleh Pak Musgon.
“Sudah, sekarang saya paham. Bahwa Pak Musgon ingin melakukan hal yang terbaik untuk warganya. Membangun kesejahteraan, memberikan layanan yang terbaik kepada warga dan menjadi pemimpin yang disantuni,” tegas Pak Jaya. “Dan kita harus membantu beliau untuk menjalankan tugas ini,” tegasku.
“Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mengerti. Saya memang sangat membutuhkan bantuan dari warga-warga sini, namun mereka tidak pernah menganggap saya baik”, jelas Pak Musgon. Pak Jaya beserta warga yang ikut mewakili dalam hal ini pun meminta maaf atas kesalahpahaman ini.
Setelah perkumpulan itu, Pak Musgon pun mencoba untuk berinteraksi dengan warga dan hasilnya warga pun menerima Pak Musgon dengan senang hati menjadi ketua RT di desa Pajo.
jempol ;-)
BalasHapusCiee
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus ceritanya mba bro 😊 😆
BalasHapusMantap ren :)
BalasHapusBagus ya ceritanya ren 😉
BalasHapusSip suda ren haha
BalasHapuswah ceritanya kebetulan kaya RT di komplek rumah saya nih ☺️
BalasHapusbanyak pelajaran yg bisa di ambil dari cerita ini.
BalasHapusgood job ����
Jempol dah ceritanya, bagus nih buat pelajaran dlm bermasyarakat
BalasHapusBagus banget ceritanya reny
BalasHapusopen minded👌
BalasHapusopen minded👌
BalasHapus